KONSEP DAN ANALISA FILSAFAT DAN ETIKA
NAMA : LA SIANDI (17630019)
KONSEP DAN ANALISA FILSAFAT DAN ETIKA
A. PENGERTIAN FILSAFAT DAN ETIKA
1. FILSAFAT
Kata filsafat berasaldari bahasa Yunani “philosophia” dari
kata “philos” artinya cinta dan “Sophia” artinya pengetahuan yang
bijaksana.
Filsafat mempunyai dua pengertian:
· Pertama filsafat sebagai produk: mengandung arti filsafat
sebagai jenis ilmu pengetahuan, konsep-konsep, teori, sistem aliran
yang nerupakan hasil proses berfilsafat.
· Ke dua filsafat sebagai suatu proses, dalam hal ini filsafat
diartikan sebagai bentuk aktivitas berfisafat
sebagai proses pemecahan masalah dengan menggunakan cara
dan metode tertentu.
Sebagai sebuah ilmu Filsafat adalah ilmu pengetahuan dengan objek material adalah: yang
“Ada” mencakup manusia, alam,Tuhan (anthropos, cosmos, Theos)beserta
problematika didalamnya, sedangkan objek formal
filsafat adalah menelaah objek materialnya secara mendalam sampai ditemukan hakekat/intisari
permasalahan. Tidak semua kegiatan berpikir itu adalah suatu
aktivitas berfilsafat. Kegiatan berpikir secara kefilsafatan
(dalamarti sebagai) ilmu memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:Kritis-Radikal-Konseptual-Koheren-Rasional-Spekulatif-Sistematis-Komprehensif-Bebas-Universal
Namun mengenai memahami
filsafat tidak hanya dapat dijelaskan hanyadengan definisi, melainakn hanya
dapat dipelajari dan dialami dengan cara berfilsafat itu sendiri. Dengan
kata lain cara terpenting untuk memahamifilsafat yaitu adalah dengan
berfilsafat.
Berfilsafat adalah
berpikir. dalam hal ini bukan berarti sesuatuyang dikatakan berpikir adalah berfilsafat, karena berfilsafat itu
berpikir dengan ciri-ciri tertentu. Ada beberapa ciri berpikir secara
kefilsafatan,yaitu
a. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara radikal.Berpikir secara radikal adalah berpikir
sampai ke akar-akarnya.
Berpikir sampai ke hakekat. Esensi, atau sampai ke substansi yang dipikirkan
b. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara
universal (umum). Berpikir secara
universal adalah berpikir tentanghal-hal serta proses-proses yang
bersifat umum.
c. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara konseptual.Yang dimaksud dengan konsep disini adalah
hasil generalisasi dan
abstraksi dan pengalaman tentang hal-halserta proses-proses individu.
d. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara koheren dankonsisten. Koheren artinya sesuai dengan
kaidah-kaidah berpikir logis.
Konsisten artinya tidak mengandungkontradiksi
e. Berpikir
secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik. Yang artinya kebulatan dan sejumlah unsur yang
saling berhubungan
menurut tata pengaturan untuk mencapaisesuatu maksud atau menunaikan, sesuatu
peranan tertentu.
f. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara komprehensif.Artinya mencakup secara menyeluruh.
g. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan secara bebas. Filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran
yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka social, historis,kultural, atau
religious.
h. Berpikir secara
kefilsafatan dicirikan dengan pemikiranyang bertanggung jawab. Bertanggung jawaban yang palingutama
adalah terhadap hati nuraninya
2. ETIKA (FILSAFAT MORAL)
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat
tinggal yang biasa, padang rumpt, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan,
sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dalam
arti terakhir inilah terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai
untuk menunjukkan filsafat moral. Etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa
dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Ada juga kata moral dari bahasa
Latin yang artinya sama dengan etika.
Salah satu cabang filsafat yaitu filsafat moral. Tampaknya
filsafat moral tidak begitu lazim terdengar di telinga dikarenakan dalam
kehidupan sehari-hari jarang sekali yang menyebut filsafat moral tetapi etika.
Benar, nama lain dari filsafat moral adalah etika. Jadi tidak usah
dibingungkan dengan apa perbedaan filsafat moral dengan etika karena
perbedaannya hanya terletak pada tulisannya saja.
Etika sebagai bagian dari filsafat, sebagai
ilmu etika mencarikebenaran
dan sebagai filsafat yang mencari keterangan benar sedalam-dalamnya. ebagai
tugas tertentu bagi etika, mencari ukuran baik-buruk bagi tingkah-laku manusia
Ø Jenis Jenis Etika dalam
Filsafat
K.
Bertens menggolongkan etika menjadi etika deskriptif, etikanormative dan mataetika. Diantara lain :
§ Etika deskriptif. !tika ini melukiskan tingkah
laku moral dalamarti luas, misalnya adat kebiasaan, anggapan-anggapan
tentang baik dan buruk, tindakan tindakan yang diperbolehkan atautidak diperbolehkan. !tika ini tidak memberikan
penilaianterhadap perilaku tertentu, melainkan hanya melukiskan saja
§ Etika normative. Dalam
etika ini para ahli etika memberikan penilaian moral terhadap suatu perilaku tertentu.
Penilaian ini berdasarkan pada norma-norma. Dengan kata lain, etika
inimenentukan baik atau buruknya suaru perilaku.
§ Mataetika, hal ini
berbicara sesuatu yang lebih tinggi daripada perilaku etis itu sendiri, yaitu soal “bahasa etis”,
bahasa danlogika yang dipergunakan di bidang moral.
Manfaat etika atau mempelajari etika di
situ yang paling mendasar adalah kita tahu bagaimana dan seperti apa
perbuatan baik dan buruk itu,
sehingga dari hal tersebut, kita tahu dan dapat memilihmana yang harus kita lakukan dan mana yang tidak harus kitalakukan.
Kemudian yang terakhir yaitu hubungannya etika dengan filsafat. Bahwa filsafat adalah bagian dari ilmu
pengetahuan yang berfungsi sebagai interpretasi tentang hidup
manusia. Etikamerupakan bagian dari
filsafat, yaitu filsafat moral. Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia
B. HUBUNGAN ETIKA DAN AGAMA
Bagaimana
Hubungan Etika dan Agama
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa etika dan agama
adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Antara etika dan agama adalah
dua hal yang saling membutuhkan, atau dalam bahasa Sudiarja “agama dan etika
saling melengkapi satu sama lain”. Agama membutuhkan etika untuk secara kritis
melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional. Sedangkan etika sendiri
membutuhkan agama agar manusia tidak mengabaikan kepekaan rasa dalam dirinya.
Etika menjadi berbahaya ketika memutlakan racio, karena racio bisa merelatifkan
segala tindakan moral yang dilihatnya termasuk tindakan moral yang ada pada
agama tertentu.
Kita dapat mengatakan bahwa etika, secara filosofis menjadi hal
yang sangat penting dalam kehidupan agama-agama, khusunya bagi negara-negara
yang majemuk seperti Indonesia. Etika secara rasional membantu kita mampu untuk
memahami dan secara kritis melihat tindakan moral agama tertentu. Kita tidak
mungkin menggunakan doktrin agama kita untuk melihat dan menganalisis agama
tertentu. Sebuah pertanyaan menarik akan muncul, jika sekiranya agama hanya
satu apakah dengan demikian etika tidak lagi dibutuhkan? Karena agama tersebut
akan menjadi moral yang mutlak dalam kehidupan manusia. Kalau kita tetap
memahami bahwa etika hadir untuk secara rasional membantu manusia memahami
tindakan moral yang dibuatnya, maka tentu etika tetap menjadi penting dalam
kehidupan manusia. Karena etika tidak akan terikat pada apakah agama ada atau
tidak etika akan tetap ada dalam hidup manusia selama manusia masih menggunakan
akal sehatnya dan racionya dalam kehidupannya. Sekalipun manusia menjadi ateis,
etika tetaplah dibutuhkan oleh mereka yang tidak mengenal agama.
Hubungan Agama dan
etika dalam konteks etika Global
Sebuah pertanyaan menarik bagaimana etika Global melihat
hubungan Agama dan Etika. Jika melihat konsep yang disampaikan oleh Hans Kung
dalam Etic Global. Maka pertama–tama harus ada kesadaran setiap agama, bahwa
dalam perbedaan doktrin kita tetap mempunyai persamaan-persamaan etis yang bisa
mempersatukan. Untuk mempersatukan persamaan ini, maka etika mempunyai peran
sangat penting didalamnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketika agama-agama berbeda
dalam doktrin, maka etika telah menjadi pemersatu. Perbedaan keyakinan bisa
terjadi pada setiap agama, tetapi rasio melalui etika telah menjadi sarana
dialog. Tidak dapat disangkal bahwa etika telah mempunyai peran sangat penting
dalam mencoba untuk mendialogkan agama-agama.
Karena itu peran etika
global dalam konteks agama-agama, sangatlah dibutuhkan. Pun kita menyadari
bahwa etika tidak akan dapat menganti peran dari agama. Etika global seperti
yang disampaikan oleh Hans Kung bahwa dia tidak akan pernah menggantikan
Taurat, Khotbah di Bukit, Alquran, Bhagavadgita, Wacana dari Buddha atau para
ungkapan Konfusius. Etika global hanya mencoba mencari titik temu diantara
agama-agamadalam nilai-nilai tertentu dengan menggunakan pendekatan etika.
Dengan demikian keterhubungan etika dan agama dalam etika global sangat nampak
dalam pencarian nilai bersama dengan menggunakan nilai yang logis dan dapat
diterima oleh semua manusia.
Comments
Post a Comment